Mengenai Saya

Foto saya
Aku adalah anak asli Mojokerto atau Majapahit kota "Onde-onde" tw gag u onde2??? itu tu makanan khas kota Mojokerto, aku adalah alumnus MI_Nul Mojoranu_sooko-SMPN 1 trowulan n skarang lagi duduk nyantai di MAN Mojokerto kelas XII A-2. itu lah dikit mengenaiku, kapan2 disambung lagi,,,,,,,,,,OK!!!!

Senin, 26 Desember 2011

Kekerasan Citra Aparat Keamanan?

Kekerasan Citra Aparat Keamanan?




Tindakan aparat keamanan akhir-akhir ini memang sedang ramai-ramainya diberitakan dan dibicarakan oleh kalangan pers, LSM, serta para pengamat. Hal ini dikarenakan tindakan aparat keamanan tidak lagi bersahabat bahkan cenderung brutal. Aparat keamanan bukan lagi sebagai salah satu institusi yang bertugas memberikan rasa aman dan tentram bagi masyarakat, tetapi rasa resah dan ketakutan. Tindakan-tindakan tersebut justru memperburuk citra aparat keamanan khususnya POLRI.

Kita sudah tahu bahwa tindakan yang cenderung brutal tersebut terjadi sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara-cara yang lebih manusiawi. Bahkan tidak membutuhkan senjata. Tetapi hal itu tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal yang pada akhirnya tindakan brutal menjadi pilihan instant. Seperti halnya berbagai kasus di Papua, Mesuji, dan yang paling baru yaitu kasus di Bima NTB.

Di Papua misalnya yang merupakan salah satu kasus yang menyita perhatian internasional. Kasus yang berkaitan erat dengan masalah kesejahteraan dan pemerataan pembangunan. Bahkan Otonomi Khusus (Otsus) belum mampu menyelesaikan hal tersebut. Seakan Otsus yang diberikan oleh pemerintah 10 tahun lalu pada tahun 2001 terlihat tiada manfaatnya. Dan masalah masalah tersebut diperparah lagi dengan penanganan aksi masyarakat yang tidak puas seperti demo,separatis OPM, pemogokan karyawan tambang emas Freeport yang dilakukan oleh aparat keamanan dengan cara yang kasar dan brutal. Seperti masalah kegiatan separatis dan pemogokan karyawan Freeport yang memakan korban jiwa. Menurut Harsono dari organisasi Human Rights Watch mengajukan argumen bahwa aksi pemogokan buruh di tambang emas dan tembaga terbesar di dunia sebagai gambaran bagaimana Papua tidak memperoleh bagian kekayaan dari sumber daya alam mereka.

Contoh lain, masalah lahan di Mesuji yang memakan korban juga. Konflik agraria antara masyarakat setempat dan pihak investor yang kembali disikapi oleh pihak aparat keamanan dengan cara kekerasan.Menurut Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Berry Nahdian Furqan masalah kekerasan terhadap masyarakat sebelumya juga ada di Jambi dan Sumatera Barat.Dan Berry menambahkan, “Aparat keamanan justru membuat situasi semakin runyam. Terjadi penembakan dan sebagainya. Sebelum di Mesuji ada di Tiaka, Sumatera Barat, dan Jambi yang seluruhnya melibatkan aparat keamanan. Ini titik krusial yang harus dilihat. Bukan cuma soal penegakan hukum, tetapi evaluasi ulang kewenangan Brimob.

Cap negatife yang diwariskan dari era ORBA tidak lagi menjadi instropeksi diri pihak aparat keamanan. Malah semakin memperburuk pandangan masyarakat sekarang. Tidak ada perbedaan antara gaya kepemimpinan ORBA maupun sekarang. Dan yang paling penting adalah tindakan brutal aparat keamanan tidak bisa dibenarkan atas dasar penegakan hukum. Aparat keamanan tidak boleh seenaknya mengumbar peluru. Dan Negara wajib hukumnya mempertanggung jawabkan tindakan yang terus berulang ini.

Jumat, 23 September 2011

Negara Subur "Pengimpor"

Negara Subur “Pengimpor”
Memang sangat memilukan negara kita akhir akhir ini. Mulai dari kekeringan yang melanda berbagai penjuru tanah air, kasus tawuran, korupsi dan yang paling mengherankan yaitu kasus karupsi dan impor hasil partanian. Padahal kalau kita fikirkan negara kita adalah negara subur (gema limpah loh jinawi). Berbagai hasil pertanian ada di negara kita mulai dari beras, jagung,bawang putih, rempah rampah sampai umbi umbian.
Tapi, itu semua hanyalah sebuah rizki tanpa rasa syukur terhadap apa yang diterima. Bukan rasa syukur dari kalangan petani Indonesia. Tapi rasa syukurnya pejabat negara kita yang tidak tahu dari siapa dia mendapat “kursi empuk”. Padahal mereka dapat itu semua sebagian besar dari petani Indonesia. Rasa syukur itu tidak tampak dari pejabat negara kita dengan memutuskan untuk mengimpor berbagai hasil pertanian. Bisa kita bayangkan, buat apa kita impor singkong ????. Negara kita bisa menghasilkan singkong. Buat apa impor garam???. Negara kita negara maritim, negara dengan lautan yang luas, yang otomatis penghasil garam juga.
Sebagai contoh saja, seorang petani di daerah Mojokerto Jatim, tepatnya di desa claket. Banyak petani di sana sekarang tidak lagi menanam bawang putih dikarenakan hasil pertanian mereka tidak bisa bersaing dengan hasil pertanian impor yang harganya lebih murah. Begitu pun petani garam yang ada di daerah aceh, yang sampai saat ini (tahun 2011) dengan susah payah bertahan dari gempuran garam impor. Kisahnya pun sudah diangkat dalam kompetisi film dokumenter "Eagle Awards" yang berjudul "Garamku tak asin lagi" karya Azhari dan Jamaluddin Phona dari Aceh yang masuk finalis Eagle Award Metro TV 2011.
Beh beh,,,,negara apa negara kita ini????. Negara para cecunguk,pengimpor hasil pertanian???. Apa mau dikata, kalau negara kita semakin terpuruk. Itu semua karena para pejabatnya hanya berorientasi KEKUASAAN BUKAN PENGABDIAN.

Senin, 09 November 2009

Jalan Jalan ke SURAMADU


Jalan-Jalan ke Surabaya memang menyenangkan banget

Senin, 19 Oktober 2009

Mamien'S Photo



Namaku : M Abdul Amin
TTL : Mojokerto, 18 Juni 1992
Alamat : Mojokerto, Jatim (muhammad_abdulamin@yahoo.co.id)
Agama : Islam
Pendidikan : Masih sekolah di MAN Sooko Mojokerto

N ini MamiEn'S Galery Perpisahan
Ini foto bersama temen-temen alumni XI A-2 MAN Mojokerto waktu perpisahan n lagi makan-makan.....!!!













Ni foto temen2 alumni XIA-2 juga dari kanan itu namanya Teri, Aku (M Abdul Amin), Robi mawardi, Aditya, Viky, Wahyu, n yang di bawah yang bawa Koran namanya Heru sahabat karibku!!!













Ni pas waktu makan bareng!!!!!! Oya lupa, yang paling kiri namanya Firman.























Selalu Ku Dengar Detak Jantungmu,,,